Bakrie Invest Di Path, Trus Aku Kudu Piye?

Mumpung lagi libur, nulis blog ahhh.. Tapi soal apa ya yang lagi hot dan bisa dibahas? Oke, kayanya topik soal investasi Bakrie Group di Path aja deh..

Sabtu, 11 Januari 2014 kemaren, pagi menjelang siang saya membaca sebuah judul artikel di salah satu media Digital Startup yang populer di Indonesia yang menyatakan bahwa Path mendapatkan pendanaan Seri C sebesar 25 juta dollar dari Bakrie Global Group dan beberapa Venture Capital lain. Wow! Bakrie yang markas besarnya di Rasuna Said itu? Tergelitik untuk membaca tapi saya tahan, karena biasanya saya buka dulu seluruh portal berita favorit, open di New Tab semua berita menarik, baru dibaca satu-satu.
Derajat kemenarikan informasi soal berita ini semakin tinggi setelah saya lihat satu thread di Hacker News yang menyatakan hal yang sama soal ikutnya Bakrie di investasi Path ini.

Oke! Akhirnya saya baca dan setelah itu, tanpa asosiasi ke hal-hal buruk dan dengan pikiran yang positif dan men-dismiss semua nada negatif yang dibahas di artikel yang saya baca dan sumber yang digunakan, saya merasa salut dan bangga dengan langkah yang diambil oleh Bakrie Global ini.

Setelah saya baca semua berita yang menurut saya menarik tadi, saya beranjak ke Media Sosial, Twitter. Karena ada screenshot tweets yang dicantumkan oleh Recode yang merupakan artikel rujukan. Saya banyak menemukan komentar bernada negatif yang diposting di Twitter. Dan kebanyakan berupa respon negatif yang menyangkutkan investasi di Path ini untuk kampanye Pilpres 2014, kenapa malah invest di Path sementara “utang” di kasus Lapindo belum dilunasi, atau hanya sekedar menyalah-artikan investasi sebagian kecil saham Path ini dengan membeli, dan komentar-komentar lain yang menyatakan ketakutan tanpa mengemukakan alasan.

Kok respon orang-orang paling banyak yang jelek-jelek gini ya?
Komentar saya simple aja.�Kalo Bakrie invest di Path kemudian Path menjadi semakin bagus, ya kenapa mesti ribut? Sekarang ini kita sudah dalam era globalisasi, siapapun dari manapun bisa berurusan dengan kita. Dan sebagai masyarakat yang tergabung dalam bangsa yang sama kenapa kita malah resah ketika ada salah satu perusahaan milik bangsa kita yang berpartisipasi dalam globalisasi?

Kenapa dengan Bakrie melakukan investasi saja sudah positif?
Perlu kita ketahui, Path ini adalah perusahaan startup, yang notabene didirikan dari awal hampir tanpa modal hingga kita bisa menggunakan dan menikmatinya seperti saat ini. Logikanya adalah, sebuah perusahaan yang berjalan pasti membutuhkan modal dan biaya. Dan kita yang menggunakannya saja hampir tidak pernah membayar bukan? Trus Path ini bisa hidup dari mana kalo kaya gitu? Dari penyokong dana atau investor bukan? Dan tentunya investasi Bakrie adalah positif, kita akan terus bisa menggunakan Path sampai modal yang disuntikkan habis atau pengguna sudah mau menggunakan fitur berbayar dan cukup untuk mencukupi biaya yang harus dikeluarkan oleh Path untuk mengoperasikan layanannya.

“Kalo nanti Path ini jadi tidak menarik gimana?”
Ya simple aja, kalo sudah tidak menarik lagi ya tidak usah pakai, cari aplikasi yang lain. Fair kan? Fair di kita dan juga di investor Path, maupun Path sendiri. Ibaratnya orang ber-relationship, kalo sudah tidak cocok ya ga usah dilanjutkan. Gitu aja kok repot.

“Kalo nanti Path jadi alat kampanye gimana?”
Mungkin saja, tapi kecil kalau menurut saya. Informasi yang kita share di Path adalah dengan teman yang kita approve untuk jadi teman kita dan maksimal cuma 150 orang, dan kayaknya ga mungkin setiap pengguna harus berteman dengan akun official Bakrie di Path, atau tidak mungkin Bakrie pasang banner berisi kampanye disana. Tapi kalo sampe itu terjadi ya simple aja, kalo ga suka tinggal ignore aja, atau uninstall Path dari device yang kita pakai, as simple as that.

“Kalo informasi kita di Path nanti digunakan Bakrie gimana?”
Analoginya gini, kita menggunakan Path itu seperti kita berkenalan dan berinteraksi dengan orang lain. Hal yang wajar kalo orang tersebut mengenali ciri-ciri fisik kita, tingkah laku kita atau hal-hal lainnya secara vice versa. Sama seperti ketika kita menggunakan Path atau Media Sosial lainnya, kita mengenali dan jago menggunakan Path, dan Path boleh mengetahui informasi dan behavior kita juga dong? Kalo tidak mau informasi pribadi kita diketahui pihak lain, ya tidak perlu berinteraksi dan bersosialisasi dengan Media Sosial, atau bahkan dengan orang sekalipun.

Soal kesalahan tafsiran bahwa Path dibeli sama Bakrie, mungkin perlu kita luruskan pemahaman kita dengan fakta yang ada. Valuasi Path saat itu sekitar 250 juta dollar, dan Bakrie saat melakukan investasi ini tidak sendirian tetapi dengan beberapa VC (Venture Capital) yang lain dengan total investasi sebesar 25 juta dollar. Cuma sebagian kecil aja kan? Jadi bukan dibeli.

Dan yang membuat saya bangga adalah, bahwa VC yang bersama-sama melakukan investasi Seri C di Path ini notabene adalah VC yang mempunyai portofolio investasi di perusahaan-perusahaan startup atau perusahaan yang sudah melakukan IPO dan awalnya adalah startup seperti Facebook, Linkedin, AirBnb (Greylock Partners), Netflix(Redpoint), 9GAG (First Round Capital), Soundcloud (Index Ventures), Waze (Kleiner Perkins) dsb.�Dan Bakrie Group adalah pemimpin dalam konsorsium yang melakukan investasi Seri C tersebut, artinya Bakrie dalam kapasitas lebih besar dibanding VC lain, tidak hanya dari sisi jumlah modal yang disuntikkan, tapi mungkin juga dalam aspek lain didalam konsorsium tersebut.

Sekarang ini jamannya digital, hidup kita sehari-hari sepertinya sudah tidak bisa lepas dari teknologi dan fasilitas digital yang dikembangkan di negara-negara lain. Apakah kita cuma mau menjadi pemakai teknologi-teknologi yang dikembangkan dan dikendalikan di negara lain? Apakah kita cukup puas dan bangga menjadi penonton di negara sendiri? Apakah dengan menggunakan media sosial atau aplikasi paling nge-trend bikinan luar negeri trus udah merasa paling exist? Apakah cuma jadi pengguna Twitter nomor sekian, pengguna Facebook nomor sekian, pengguna aplikasi ini nomor sekian, kita sudah hebat? Dan apakah kita akan selalu sibuk ribut-ribut dengan sesama bangsa, padahal bangsa lain sudah terbang ke Mars dengan teknologi mereka?

Sekarang kita lihat, aplikasi digital yang kita gunakan dan nimati sehari-hari, ada ga yang dibuat oleh perusahaan Indonesia? Ada mungkin, tapi sedikit atau jarang banget, atau dulu ada tapi sudah bangkrut atau ditutup.
Trus ada ga dari aplikasi-aplikasi yang kita pakai, yang didanai oleh perusahaan investasi lokal? Ada mungkin, tapi kita jarang kita pakai atau bahkan kita tidak tahu.
Kita lihat lagi bahwa aplikasi-aplikasi populer yang kita gunakan kebanyakan dirintis dan dikembangkan dimana? Jauh di Pantai Barat Amerika Utara sana, di Silicon Valley.
Tapi apakah semua negara seperti kita, cuma bisa memakai, mengikuti tren dan menjadi Hipster? Menurut saya tidak.

Kita contohkan saja di China. Hampir setiap ada aplikasi atau ide yang direalisasikan di Silicon Valley menjadi populer, pasti ada clone (tiruannya) di China. Google-Baidu, Facebook-Renren, Twitter-Weibo, Amazon-Alibaba, AirBnb-Mayi, Apple-Xiaomi, dan banyak lagi.
Mungkin proteksi dari pemerintah yang sangat ketat menjadi faktor utama dominasi aplikasi lokal di China, sehingga Google saja hanya punya tidak lebih dari 2% market share dan bahkan Baidu sudah mulai ekspansi keluar China. Tapi apakah ada aplikasi digital kita, yang bisa kita banggakan dan digunakan di negara lain?

Dengan adanya perusahaan lokal yang melakukan investasi di perusahaan global, saya rasa ini adalah awal yang positif dan perlu diapresiasi, terlepas dari banyak informasi yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut tidak baik dalam beberapa hal. Namun jika perusahaan tersebut, group, atau jaringan perusahaannya memang buruk, saya rasa perlu juga untuk melihat bahwa berapa banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari perusahaan tersebut.�Dan terkait dengan investasi tadi, semoga nantinya akan diikuti oleh perusahaan-perusahaan lokal lainnya untuk turut bermain di ranah yang sama.�Walaupun ada beberapa VC yang mulai membangun di Indonesia seperti Merah Putih Incubator, Jakarta Founder Institute, Grupara Inc, Ideosource, GEPI atau Systec, namun gaungnya belum terdengar begitu jauh di Indonesia sendiri apalagi di luar Indonesia.

Dulu kita dijajah secara fisik, lama banget. Setelah merdeka secara fisik, sekarang kita dijajah dengan sistem-sistem. Apakah kita juga harus dijajah juga di ranah teknologi informasi yang sebenarnya bersifat tanpa batas? Apakah mental bangsa ini memang mental bangsa rendahan yang selalu asal ikut-ikutan saja padahal sebenarnya kita tidak diuntungkan? Apakah kita memang bangsa yang suka nurut-nurut aja dan bermental budak?�Apakah nanti hanya dengan ada perusahaan digital asing yang buka kantor cabang di Indonesia trus kita senang dan benar-benar merasa cukup? Apakah dengan bekerja di perusahaan asing kita sudah merasa cukup? Apakah kita meniru dan mengekor tren di negara-negara maju sudah cukup? Kenapa tidak mencoba menciptakan trend sendiri?

Semua dikembalikan ke kita, bagaimana kita ingin membawa perubahan dan perkembangan di masa depan terkait teknologi digital kita. Indonesia pada khususnya, dan Asia Tenggara pada cakupan yang lebih luas adalah pasar yang baru tumbuh dengan potensi yang luar biasa mengingat kekuatan ekonomi Asia Tenggara yang didiami oleh 600 jutaan penduduk, dibandingkan dengan Eropa yang 700 jutaan penduduk, tidak beda-beda jauh kan? Path sendiri kurang diterima dinegara asalnya, kemudian disini mendapat respon positif dari pengguna, bahkan Indonesia adalah salah satu pengguna terbanyak. Apa salahnya ada perusahaan Indonesia yang melakukan investasi di Path?

Walaupun pada akhirnya siapapun yang menyediakan service terbaik yang akan dipilih dan digunakan, tetapi apakah kita cuma mau jadi pemakai? Apakah kita ga mau sebagai yang membuat, atau sekedar yang mengarahkan, atau bahkan ikut mengelola dan mengoperasikan sebagai penyedia service?

Akhirnya saya menyimpulkan pandangan yang sifatnya mungkin subjektif, bahwa kecenderungan orang Indonesia nih, kalo dapet informasi tidak crosscheck dulu validitas dan relevansinya. Mungkin ada yang sempet crosscheck, tapi ketika itu sudah valid dan relevan, apakah mereka cek juga keutuhan informasi tersebut dengan informasi terkait sehingga bukan cuma sekedar potongan informasi dan tidak langsung asal bereaksi dan berkomentar? Dan ketika informasi tersebut memang negatif, kenapa kita tidak melihat sisi positif lain dari pihak-pihak didalam informasi tersebut? Apakah ketika sekali kita mengetahui bahwa sesuatu itu pernah negatif, terus selamanya akan negatif?

Dan saya pikir kita akan tetap menjadi bangsa yang terbelakang kalau mental kita selalu seperti itu. Soekarno dan pejuang-pejuang kemerdekaan akan sedih melihat situasi Indonesia sekarang. Kita memang harus kritis tapi bukan nyinyir dan memberikan judgement negatif secara membabi buta. Kita juga harus wise dalam menerima, mengolah, menerjemahkan dan menyikapi informasi tertentu. Dan kita harus adil, yang dimulai dari dalam pikiran, seperti kata Pramoedya Ananta Toer,�”Seseorang harus berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan”.

blog comments powered by Disqus