Kenapa Facebook Mengakuisisi WhatsApp?

Facebook mengumumkan akuisisi terhadap WhatsApp seperti diumumkan pada rilis resmi mereka tanggal 19 Februari 2014 kemarin. Kabar ini tentunya sangat menggemparkan, mengingat nilai akuisisi yang fantastis mencapai 19 miliar dollar, jika dibandingkan dengan akuisisi sebelumnya yang pernah dilakukan terhadap Instagram sebesar 1 miliar dollar. WhatsApp sendiri memang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, seperti bisa dilihat di Indonesia, ditahun-tahun kebelakang orang sering bertanya “No PIN berapa?” yang mengacu kepada Pin BBM, tetapi sekarang lebih banyak orang bertanya “No WA berapa?” yang mengacu kepada ID WhatsApp.

Posisi WhatsApp sendiri adalah sebagai aplikasi mobile messaging pengganti SMS yang tidak berbayar, itulah kenapa WhatsApp sendiri sangat populer bahkan bisa membunuh SMS nantinya, mengingat biaya yang harus dikeluarkan jika menggunakan SMS jauh lebih mahal dibanding menggunakan WhatsApp. Jika biaya yang harus dikeluarkan untuk menggunakan WhatsApp adalah sebesar 1 dollar per tahun (bahkan gratis di tahun-tahun awal), maka rata-rata biaya yang harus dikeluarkan jika menggunakan SMS adalah sebesar 0,01 dollar per message. Jika tiap 1 hari pengguna rata-rata menggunakan 10 SMS maka biaya per tahun yang harus dikeluarkan adalah sebesar 36 dollar per tahun.

WhatsApp sendiri tidak menggunakan teknologi yang baru, sebelumnya sudah banyak aplikasi messaging yang bisa digunakan di perangkat mobile seperti Yahoo Messenger, Google Talk dsb. Tetapi kenapa WhatsApp bisa muncul ke permukaan? WhatsApp mengadopsi integrasi terhadap perangkat mobile seperti yang dilakukan oleh BBM, namun menggunakan nomor yang digunakan di handphone sebagai ID. Ide dan kunci kesuksesan WhatsApp sangat sederhana, namun terbukti sangat efektif.

WhatsApp dioperasikan oleh perusahaan yang berbasis di Mountain View, California dengan total karyawan sekitar 50 orang, yang tentunya sangat sedikit dibandingkan dengan operator telekomunikasi yang bisa mencapai beberapa ribu. Diperkirakan revenue WhatsApp dalam setahun sendiri bisa mencapai 1 miliar dollar saat pengguna yang melakukan pembayaran sudah mencapai 1 milliar. WhatsApp sendiri mengklaim tidak mengeluarkan biaya marketing untuk produk yang mereka jalankan, bahkan secara personal, para pendiri dan karyawan WhatsApp sendiri tidak menyukai dengan publikasi.

Revenue yang berhasil dicapai Facebook pada kuartal keempat 2013 sendiri adalah sebesar 2,6 miliar dollar, tentunya bukan angka yang sedikit, kemudian Facebook sendiri juga sangat kuat dan merupakan perusahaan yang sudah go public. Tetapi kenapa Facebook melakukan akuisisi terhadap WhatsApp dengan nilai yang sangat besar dan WhatsApp merelakannya?

WhatsApp membutuhkan Facebook untuk memperkuat posisinya di kancah kompetisi aplikasi Mobile Messaging.

WhatsApp sejauh ini mungkin memang memenangkan kompetisi dilihat dari basis pengguna yang mencapai 450 juta, tetapi harus diperhatikan juga perkembangan kompetitor lain seperti Kakao Talk, Line, WeChat, Viber dan BBM.
Kakao Talk dari Korea Selatan dengan basis pengguna sebesar 130 juta ini, memanfaatkan influence Korea dan budayanya yang sedang naik daun. Line dari Jepang yang mempunyai basis pengguna sebesar 350 juta dan menyediakan fitur gaming berisi game-game menarik dan iconic sticker characters yang membuat penggunanya betah untuk terus memakai Line. WeChat dari China dengan penyokong raksasa internet China, Tencent, mempunya basis user sebesar 272 juta di kuartal ketiga 2013 yang sangat agresif dalam melakukan ekspansi keluar China. Viber dikembangkan oleh 4 orang Israel yang kemudian dikelola oleh perusahaan yang terdaftar di Siprus dan Amerika Serikat, mempunyai basis pengguna sebesar 300 juta dan baru saja diakusisi oleh perusahaan asal Jepang, Rakuten yang tentunya sangat memahami situasi market di Asia. Dan mungkin kita juga harus mempertimbangkan BBM (Blackberry Messenger) asal Kanada yang merupakan aplikasi andalan Blackberry, dimana saat ini sudah dibuka ke platform yang lain dengan kekuatan pengguna sebesar 80 juta.

Kompetisi dengan bumbu potensi, capital, uniqueness dan strategi masing-masing aplikasi mobile messaging memang terlihat sangat menarik. WhatsApp yang berangkat dari perusahaan perintis (startup) tanpa dukungan capital yang besar, memang sudah seharusnya mempertimbangkan kompetitor-kompetitor dari Asia yang memang merupakan produk perusahaan yang sudah mapan dengan dukungan modal yang sangat kuat. Kekuatan modal ini akan sangat menentukan dalam pengembangan produk yang dilakukan agar terus bisa bersaing selain untuk melakukan aktifitas marketing seperti yang dilakukan oleh WeChat, Kakao Talk dan Line yang bisa dibilang massive dan progresif.

Pengalaman WhatsApp yang hanya terdiri dari sekitar 50 orang, tentunya akan kalah dengan produk lain yang lebih mengetahui situasi market. Facebook dalam hal ini sudah sangat berpengalaman dan mapan, sehingga dengan bergabung adalah keuntungan bagi WhatsApp untuk mendapatkan lebih banyak masukan dan dukungan dalam pengembangan dan strategi produk yang dijalankan kedepannya, selain mendapatkan dukungan finansial yang lebih kuat.

Facebook membutuhkan WhatsApp untuk tetap berkembang, berekspansi dan mempertahankan eksistensinya.

Sebagai perusahaan yang sudah go public dan dikenal luas diseluruh penjuru dunia, Facebook harus terus exist demi tanggung jawab kepada semua pihak yang telah menjadi investor. Proses yang dibutuhkan untuk mempertahankan eksistensi salah satunya adalah dengan melakukan ekspansi selain menjaga agar perusahaan tetap berjalan dan berkembang.
Facebook sendiri mempunyai fitur messaging yang terintegrasi dengan produk social network mereka, tetapi tetap melakukan akuisisi pada WhatsApp yang tentunya akan menimbulkan kompetisi dalam dua produk yang dijalankan oleh satu perusahaan. Facebook juga mengakuisisi Instagram dengan nilai yang fantastis pada April 2012 padahal Facebook sendiri juga terdapat fitur yang hampir mirip. Namun, Zuckerberg tetap mempertahankan karakter masing-masing produk yang diakuisisi tanpa usaha-usaha untuk menggabungkannya dengan existing produk social network yang dimiliki, tidak seperti Google yang setiap kali melakukan akuisisi akan selalu berusaha untuk melakukan sinergi dan integrasi produk yang diakuisisi tersebut dengan existing produk yang mereka jalankan. Dengan satu akun Google pengguna bisa menggunakan Gmail, Google+, Blogger, Analytics, Wallet dan banyak lagi yang lain termasuk Android.
Jika strategi google adalah membuat pengguna tertarik dan addicted kemudian menyediakan produk dan service seluas-luasnya, maka dapat dilihat bahwa strategi dan fokus Zuckerberg untuk terus survive adalah menggembungkan basis pengguna sebanyak-banyaknya, kemudian menyerahkan kepada tim yang lain untuk mengelolanya, seperti yang terjadi pada Facebook dimana Sheryl Sandberg yang membuat Facebook profitable.

Facebook sendiri pernah diprediksi akan kehilangan 80% pengguna aktif antara tahun 2015 hingga 2017 dalam studi akademis yang dilakukan oleh Princeton University pada bulan Januari 2014. Hal tersebut mungkin juga sudah diprediksi oleh Zuckerberg mengingat puncak pertumbuhan pengguna Facebook yang saat ini sudah melebihi 1 miliar pengguna adalah pada tahun 2012. Facebook hanya akan tinggal nama dan pengguna dalam jumlah besar yang tidak aktif jika tidak melakukan ekspansi basis pengguna seperti yang dilakukan dengan melakukan akuisisi pada WhatsApp. Tidak menutup kemungkinan WhatsApp akan segera meraih pengguna menjadi 1 miliar dan bahkan melampaui Facebook dalam waktu dekat, mengingat penambahan pengguna paling pesat adalah saat ini yang mencapai 1 juta pengguna per hari, dan kebutuhan mobile messaging tentunya lebih luas daripada kebutuhan untuk bersosialisasi dengan social network.

Mark Zuckerberg dan Jan Koum adalah sama-sama berjiwa Geek dan mempunyai visi yang sama dan saling melengkapi. Visi Zuckerberg yang dituangkan dalam visi Facebook sebagai perusahaan adalah “to make the whole world more open and connected”, sedangkan Koum berfokus pada bagaimana menjadikan teknologi untuk menyediakan kemudahan dan simplicity dalam berkomunikasi yang dituangkan dalam produk yang dibesut, WhatsApp, yang tanpa iklan, tanpa game dan tanpa fitur-fitur tambahan lain untuk mempermudah penggunaan produk. Zuckerberg fokus pada masalah apa yang ingin diselesaikan dan Koum fokus pada bagaimana cara memecahkan masalah, hal tersebut yang mungkin membuat keduanya cocok dan akhirnya melakukan deal akuisisi. Mungkin juga, itulah kenapa WhatsApp yang sudah diincar juga oleh Google dan Yahoo lebih memilih Facebook.

Facebook sebagai perusahaan tidak hanya akan cukup bertahan dengan produk social network yang mereka miliki karena tujuan mereka adalah membuat semua orang lebih terbuka dan terhubung, Facebook kedepannya dipastikan akan terus melakukan adaptasi, inovasi dan akuisisi-akuisisi lain untuk terus memiliki basis pengguna yang besar.

Referensi:
Facebook release on Whatsapp http://newsroom.fb.com/News/805/Facebook-to-Acq
Facebook loosing users 2017 http://arxiv.org/pdf/1401.4208v1.pdf
Wechat users base http://www.techinasia.com/tencent-wechat-272-million-activer-users-q3-2013/
Kakao Talk, Line users base http://techcrunch.com/2014/01/10/kakaotalk-content-platform/
Viber users base http://blogs.wsj.com/moneybeat/2014/02/17/investors-deliver-message-on-rakutens-plan-to-buy-viber/
Indosat revenue 2012 http://investing.businessweek.com/research/stocks/earnings/earnings.asp?ticker=ISAT:IJ
Facebook earning slides http://files.shareholder.com/downloads/AMDA-NJ5DZ/2974697257x0x721748/be75c513-b84a-486d-a838-25cdc79c6a16/FB_Q413EarningsSlidesFINAL.pdf

blog comments powered by Disqus