Clash Of Clans, Simbol Kesuksesan Mobile Gaming

Clash of Clans, sebuah game yang dikembangkan oleh Supercell, perusahaan studio game yang berasal dari Finlandia, bisa dikatakan sebagai sebuah game yang sangat sukses dan menandai era mobile gaming yang semakin populer dibandingkan dengan game berbasis PC dan console yang mengalami tren penurunan. Seperti dikutip dari Dailymail.co.uk, dikatakan bahwa market share game Online – Console – Mobile pada tahun 2009 adalah 21% – 68% – 11%, sedangkan untuk tahun 2014 diperkirakan akan menjadi 31% – 41% – 28%.

Sekitar tahun 2004, kita ingat game-game RTS (Real Time Strategy) seperti Rise of Nations atau Age of Empires yang mengedepankan experience langsung dalam membangun civilization hingga ke peperangan dengan pemain yang lain. Tipe game seperti ini harus dimainkan secara kontinyu atau civilization yang dibangun akan dihancurkan oleh pemain musuh dalam sekejap.

Kemudian sekitar tahun 2006, game strategi multiplayer dengan experience yang sangat minim menjadi sangat populer. Travian. Game ini lebih fokus kepada strategi saja dengan interface yang sangat sederhana dan tidak harus dimainkan secara terus menerus, karena waktu yang dibutuhkan untuk mencetak pasukan perang maupun membangun civilization memang didesain tidak instan. Travian bahkan bisa dimainkan hingga dalam hitungan tahun.

Memasuki tahun 2012-2013, ketika kapasitas processing yang dimiliki oleh smartphone yang umum digunakan sudah semakin besar, dan bahkan hingga melebihi kelas Pentium 4 pada jamannya, maka diikuti juga dengan kemampuan smartphone untuk menyajikan game dengan experience yang lebih maju. Selanjutnya Clash of Clans pun muncul dan istilah populernya menjadi booming. Clash of Clans menggabungkan strategi dan action kedalam game multiplayer yang dimainkan dalam perangkat mobile. Seperti pernah disebutkan oleh salah satu founder dari Clash of Clans, bahwa adaptasi dari Travian memang banyak dilakukan ke dalam game ini.

Dari sisi desain karakter didalam game, Clash of Clans sangat kreatif dan bisa menciptakan ‘dunianya sendiri’ dengan karakter-karakter yang kuat sesuai dengan purpose mereka masing-masing. Jika di Lord of The Rings ada Men, Hobbit, Elf, Dwarf, Orc dan sebagainya, maka di Clash of Clans ada Barbarian, Goblin, Giant, Archer, Wizard, Minion dan lainnya. Masing-masing karakter mempunyai unique abilities yang intinya merupakan pembedaan pada variabel hitpoints, attack power, attack range/area dari masing-masing karakter tersebut.

Untuk membangun civilization (village di Travian dan Clash of Clans), jika di Age of Empires menggunakan Wood, Gold dan Food dan Experience (mulai versi 3), maka di Travian membutuhkan Wood, Clay, Iron dan Crop. Berbeda lagi di Clash of Clans yang hanya membutuhkan Elixir dan Coin saja. Hal ini membuat Clash of Clans menjadi lebih simple dan lebih mudah dimainkan, namun tetap menarik.

Sama seperti Travian, Clash of Clans juga menggunakan strategi freemium, dimana fitur-fitur standar adalah gratis, sedangkan untuk beberapa hal tertentu bisa didapatkan dengan menggunakan nilai tukar yang bisa dibeli. Clash of Clans menyediakan Gems yang bisa dibeli dengan paket-paket harga tertentu. Pada dasarnya Gems ini bisa digunakan untuk membeli resource (Elixir atau Coin) dan untuk ‘membeli waktu’ yang diperlukan untuk melakukan upgrade atau produksi unit. Jadi seperti dalam kehidupan nyata bahwa memang waktu adalah sesuatu yang paling mahal yang tidak bisa diproduksi, kecuali ditukar dengan Gems yang harus dibeli.

Clash of Clans juga menyediakan kemampuan untuk bersosialisasi didalam game yang ditandai dengan pembentukan atau bergabungnya pemain dengan clan yang sudah ada. Clan terdiri dari beberapa pemain yang bisa melakukan chatting dan saling menyumbangkan pasukan untuk defense, ataupun nantinya digunakan untuk menyerang pemain yang lain. Yang lebih epic lagi, pada awal April 2014 kemarin Clash of Clans mengumumkan fitur baru yang membuat pemain menjadi lebih penasaran dan addicted untuk terus bermain, yaitu dengan diaktifkannya Clan Wars, dimana peperangan dilakukan di level clan.

Desain gameplay dari Clash of Clans memang sangat jenius, kreatif dan matang. Di level-level awal pemain disibukkan dengan upgrade clan, hingga ke level dimana proses upgrade ini menjadi lebih memerlukan perhitungan dan kesabaran, ketika kapasitas produksi resource sudah mentok dan harus tetap mempertimbangkan strategi defense agar resource yang sudah diproduksi tidak ‘dicuri’ oleh lawan. Dan masih banyak sekali fitur dan gameplay yang membuat game ini menjadi menarik dan addictive sehingga menjadi sangat populer.

Sepopuler apa Clash of Clans ini bisa dilihat di versi Android dan iOS dimana game ini tersedia. Per tanggal 27 April 2014, dilihat langsung dari Google Play Store dan App Store, Clash of Clans menduduki peringkat pertama kategori Top Grossing (game yang paling banyak menghasilkan revenue), dan masuk kedalam peringkat 10 besar Top Free (game gratis yang paling banyak didownload). Di dalam versi iOS, Clash of Clans juga menduduki peringkat pertama dalam kategori Top Grossing dan peringkat ke-11 dalam kategori Top Free Games. Sedangkan menurut informasi dari website Supercell, saat ini Clash of Clans menjadi Top Grossing iPad game di 122 negara.

Clash of Clans sendiri saat pertama kali dikembangkan dan dijalankan (pada tahun 2010) hanya terdiri dari 5 orang anggota tim saja (seperti dikutip dari Forbes.com) yang merupakan sekitar setengah dari total karyawan Supercell, dimana saat itu sebagian tim bekerja untuk Hay Day (game lain yang dibuat Supercell).

Karena skala pengguna yang berkembang menjadi sangat besar, hingga Februari 2014 jumlah karyawan yang bekerja di Supercell menjadi sebanyak 138 orang. Karena Supercell mengelola 3 buah game, maka asumsinya adalah, jumlah tim di Clash of Clans berjumlah sekitar 50-60 orang. Sebuah tim yang sangat kecil jika dibandingkan dengan revenue yang dihasilkan.

Dikutip dari Forbes.com lagi, pada tahun 2012 Supercell berhasil mencatat $101 juta revenue, kemudian menjadi $829 juta pada tahun 2013. Konversi kasarnya sekitar minimal Rp 1 triliun pada 2012 dan minimal Rp 8 triliun pada 2013 (sekitar Rp 60 miliar per head per tahun). Jumlah yang sangat fantastis.

Melihat dari gejala bahwa popularitas dan pengguna Clash of Clans (dan game buatan Supercell yang lain) yang terus menanjak, tentunya revenue Supercell akan terus bertambah pada tahun 2014 ini. Bahkan, jika data yang dibocorkan oleh kelompok hacker Ethical Spectrum dari Syria pada pertengahan Februari 2014 yang mengklaim telah berhasil mengakses data backend dari Supercell adalah benar, bahwa revenue per hari Supercell dari Clash of Clans dan Hay Day adalah sebesar $5.1 juta. Dan jika jumlah tersebut diambil sebagai rata-rata per hari, maka revenue Supercell pada tahun 2014 akan menjadi sekitar Rp 20 triliun.

Angka-angka tersebut tentunya mayoritas berasal dari Clash of Clans, mengingat yang menjadi Top Grossing di Google Play Store dan App Store adalah Clash of Clans. Dan angka-angka tersebut tentunya jauh lebih besar jika dibandingkan dengan Flappy Bird yang berhasil meraup keuntungan sampai dengan $50 ribu per hari sebelum akhirnya ditarik dari peredaran.

Dibandingkan dengan Rovio (tetangga pembuat Angry Birds yang juga berasal dari Finlandia), King (pembuat Candy Crush), Zynga (dengan game-game yang populer di platform Facebook) atau Gameloft (yang mempunyai tim produksi di Jogja), Supercell dengan konsep mobile-social game bisa dikatakan yang paling berhasil. Banyak sekali tiruan Clash of Clans yang muncul, namun sejauh ini tidak berhasil mengalahkan popularitas Clash of Clans.

Berdasarkan beberapa hal yang dibahas diatas, kunci yang membuat Clash of Clans (secara spesifik) dan Supercell (dalam scope lebih luas) memenangkan kompetisi ini adalah:

Genius Game Design
Desain game dengan latar serta karakter-karakter yang kuat dan unik, disertai dengan game play yang addictive dan selalu membuat penasaran pemain untuk mencapai level tertentu membuat  pengguna terus menggunakan game ini. ‘Reward’ yang ditawarkan ketika pemain mencapai level tertentu ini juga yang mendorong pemain rela melakukan pembelian Gems. Waktu upgrade yang mencapai hitungan puluhan hari justru membuat pemain tidak sabar untuk segera menyelesaikannya dengan mengganti waktu yang diperlukan dengan Gems.

Social Gaming Enabled
Dilengkapinya game dengan fitur untuk melakukan interaksi dengan pemain lain dalam bentuk percakapan langsung maupun dalam bentuk action di dalam game, membuat game ini menjadi lebih menarik selain potensi untuk menjadi ‘viral’ juga lebih besar. Game akan lebih menarik jika dimainkan bersama-sama dalam satu komunitas dan untuk ‘menyerang’ komunitas lain, termasuk sumbang-menyumbang bantuan antar member dalam sebuah tim (clan) dan ‘peperangan’ antar clan (clan wars).

Mobile Platform (Only)
Tersedianya game dalam platform mobile (saja), memang membuat game ini bisa dimainkan kapan saja di mana saja. Game ini bisa menjadi pengisi waktu atau menjadi alat yang digunakan untuk ‘refreshing’ dan tidak harus dimainkan secara terus menerus. Fleksibilitas dan mobilitas yang membuat game ini bisa terus dimainkan tanpa batasan seperti jika dimainkan di PC atau console.

Kemudian, yang membuat Clash of Clans tetap bertahan, dari sisi pembuat (dalam hal ini Supercell) tentu saja karena penghasilan yang didapatkan sangat besar, sehingga bisa terus menghidupi game ini karena dari sisi kebutuhan human resource dan infrastruktur yang bisa dipenuhi dengan baik.

Selain itu, Supercell juga didukung oleh pendanaan dari beberapa venture capital (VC) ternama, diantaranya: Accel Partners, Index Ventures dan Institutional Venture Partners. Pada bulan Oktober 2013, Supercell juga memecahkan rekor pembelian saham untuk perusahaan mobile game dari group Softbank Corp asal Jepang, sebesar $1,5 milyar untuk share saham dengan porsi 51% dengan valuasi perusahaan melebihi $3 milyar, ketika waktu itu Supercell baru berumur 3 tahun, dengan total karyawan sekitar 100 orang.

Finlandia, negara dengan jumlah penduduk hanya sekitar 5 juta (setengah dari populasi Jakarta dan 1/8 dari populasi Jawa Barat) ternyata terbukti telah berhasil mengelola sumber daya manusia yang dimiliki. Nokia (kini dibeli Microsoft), Rovio, Supercell dan Linus Torvalds (pembuat sistem operasi Linux), lahir di Finlandia. Mungkin karena sistem pendidikan di Finlandia yang menempati peringkat pertama terbaik di dunia yang mempengaruhi fenomena ini.

Saya teringat, sekitar tahun 2007-2008 ketika saya masih kuliah di Bandung, salah satu dosen disana bercerita bahwa beliau sedang ikut mengembangkan game dengan genre MMORPG (Massively Multiplayer Online Role Playing Game) untuk PC bernama Nusantara Online (Nusol) yang mengambil setting lokasi di Indonesia pada zaman Hindu-Budha. Namun game ini sepertinya menjadi hidup segan mati tak mau (pendapat subyektif) setelah dilaunch, karena mungkin pengembangan waktu itu tidak memperhitungkan tren yang cepat sekali berubah, dalam hal ini penggunaan platform mobile dan eksplorasi fitur social.

Harapannya adalah, Indonesia dengan potensi budaya sangat besar yang merupakan sumber ide kreatif diikuti dengan sumber daya manusia yang melimpah ruah, harusnya bisa lebih berprestasi dibandingkan dengan Finlandia.

blog comments powered by Disqus