Kecerdasan Buatan Dan Masa Depan Yang Sudah Dimulai

Perkembangan teknologi informasi dapat dirunut dengan munculnya perusahaan-perusahaan teknologi yang dapat dikelompokkan kedalam 2 fase besar. Fase pertama adalah masa dimana berbagai jenis komputer dalam bentuk hardware termasuk software dan kelengkapannya diproduksi, dipasarkan kemudian digunakan secara masal. Fase kedua adalah ketika hardware dan penggunanya semakin terkoneksi dengan semakin terjangkaunya koneksi internet secara luas yang secara virtual menghapus batas-batas geografis.

Perusahaan dalam fase pertama ini awal, fokus, atau secara strategis memproduksi hardware atau software untuk pengoperasian hardware tersebut yang sedikit diantaranya adalah Microsoft, Apple, Cisco, Dell, HP, IBM dan sebagainya. Kemudian perusahaan yang masuk dalam fase kedua adalah perusahaan yang kemunculannya memanfaatkan konektifitas dengan menciptakan media atau tools yang menghubungkan pengguna dengan pengguna atau pengguna dengan layanan melalui koneksi internet. Perusahaan yang masuk dalam fase kedua ini antara lain Google, Facebook, Twitter, Amazon, Paypal, Basecamp, AirBnB dan sejenisnya.

Kemudian perusahaan-perusahaan yang muncul di fase pertama terus melakukan adaptasi dengan menciptakan model-model layanan atau produk seperti perusahaan yang muncul di fase kedua, misalnya Microsoft meluncurkan Bing sebagai mesin pencari versi mereka untuk bersaing dengan Google Search. Dan juga perusahaan yang muncul di fase kedua menciptakan produk dan service yang berbasis hardware, misalnya Google mengakuisisi dan mengembangkan Android sebagai salah satu komputer dalam platform mobile untuk mendukung service dan produk yang mereka berikan kepada pengguna mereka saat ini.  Kemudian, perusahaan yang mengembangkan hardware dalam platform mobile dapat dimasukkan kedalam kategori perusahaan yang muncul di fase kedua karena mereka menciptakan produk yang mengakomodasi konektifitas internet namun dalam perangkat mobile.

Motif yang melatar belakangi ekstensifikasi produk dan layanan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan tersebut tentunya adalah untuk terus bertahan mempertahankan eksistensinya selain untuk mengakomodasi aspirasi dari para pemegang saham yang mengharapkan pembagian dividen atau sekedar mempertahankan aset kekayaan mereka di perusahaan tersebut, dan (mungkin juga) pekerja yang menggantungkan hidupnya dari perusahaan tersebut.

Teknologi informasi berkembang begitu cepat dan dinamis (minimal dalam pandangan subjektif saya). Eksplorasi terhadap teknik, metode, dan paradigma untuk pengembangan software terus berkembang setiap saat, bahkan dalam hitungan detik, yang dipicu oleh meledaknya konsep open-source dimana software menjadi terbuka dan siapa saja bisa ikut berkontribusi. Hal ini adalah antitesis dari software yang tertutup dan harus dibeli dengan lisensi tertentu dari pembuatnya.

Meledaknya software dalam bentuk library, framework, bahasa program, dan lainnya, telah mendorong biaya pembuatan aplikasi menjadi semakin murah dan terjangkau yang memungkinkan layanan dibangun dan dikembangkan dalam waktu yang sangat singkat dan dengan biaya yang relatif sedikit. Improvisasi layanan yang diadaptasikan dari perilaku pasar dan pemakai pun dapat dilakukan dengan cepat dan dinamis.

Dalam rentang perkembangan pada garis fase ini, kita ingat dengan startup bubble yang terjadi di jantung startup dunia, Silicon Valley, dimana 9 dari 10 startup terbukti gagal untuk terus bertahan hidup. Bertahan atau tidaknya perusahaan-perusahaan startup tersebut dihubungkan dengan aspek berhasil atau tidaknya menjadi besar dimana mereka bisa atau tidak menjaga cashflow yang entah sumbernya berasal dari penanaman modal ataupun dari revenue, atau mereka diakuisisi oleh perusahaan lainnya baik dalam kategori perusahaan yang dibentuk di fase pertama, maupun sesama perusahaan yang muncul di fase kedua.

Jika disederhanakan kembali, satu istilah yang dapat mencakup hal yang mendasari terjadinya fenomena di fase pertama adalah otomatisasi, yang secara umum mentransformasi urusan-urusan manusia ke dalam pola-pola yang bisa dikerjakan oleh mesin komputer sehingga meningkatkan produktifitas akan hasrat pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan hidup manusia. Dan di fase kedua, istilah yang paling sesuai adalah konektifitas, yang menghubungkan manusia dengan manusia lainnya dengan lebih cepat, reliable dan leluasa sehingga membantu mempermudah manusia menyelesaikan urusan-urusannya dengan manusia lain yang pada akhirnya juga meningkatkan produktifitas. Sehingga dapat disimpulkan juga bahwa masalah utama yang menjadi pemicu dari meledaknya otomatisasi dan konektifitas adalah usaha untuk meningkatkan produktifitas. Jadi apalagi yang akan meledak setelah otomatisasi dan konektifitas mencapai titik-titik puncak eksplorasi?

Hai ini sebenarnya sudah terinisiasi dan sedang berjalan ke dalam tahap yang lebih masif. Bisa dilihat dalam beberapa hal yang sedang terjadi pada perusahan-perusahaan teknologi akhir-akhir ini.

Misalnya algorihmic timeline yang sedang diuji coba ke pengguna oleh Twitter pada awal bulan Februari 2016 ini. Sebenarnya ini adalah hal yang sangat sederhana dimana postingan yang muncul di timeline tidak diurutkan berdasarkan waktu, namun berdasarkan rangking yang disesuaikan berdasarkan perilaku seorang pengguna. Prediksi yang dilakukan oleh mesin ini sudah diimplementasikan oleh Facebook jauh sebelumnya, bahkan algoritma pencarian Google pun bekerja untuk menghasilkan hal serupa.

Kemudian Microsoft yang di awal Februari 2016 juga mengumumkan akuisisi terhadap SwiftKey, perusahaan yang menciptakan teknologi prediksi pengetikan yang sudah digunakan secara luas baik di platform iOS maupun Android yang menurut klaim mereka sudah menghemat 10 triliun ketikan bagi penggunanya. Secara lebih luas lagi, SwiftKey memang mengembangkan kecerdasan buatan (bahasa kerennya: artificial intelligence) secara lebih mendalam dimana prediksi yang dilakukan oleh teknologi mereka bisa terus belajar secara mandiri.

Selain sudah lama memiliki Siri dan mengakuisisi beberapa perusahan kecil pengembang artificial intelligence, pada awal Januari 2016 ini Apple melakukan akuisisi terhadap Emotient Inc perusahaan yang melakukan prediksi emosi manusia melalui analisa ekspresi wajah. Teknologi ini bisa dikembangkan dan dikemas dalam berbagi macam bentuk dan pengaplikasian, bisa jadi nanti bisa berkomunikasi dengan mode video dimana emosi kita bisa dikenali oleh Siri misalnya.

Facebook sendiri sudah meluncurkan Facebook M pada pertengahan 2015 lalu, asisten virtual yang akan bersaing dengan Siri dan Cortana (milik Microsoft) ini terus dikembangkan dan di-improve. Facebook sendiri juga sudah mengembangkan lab Facebook AI dengan serius, bahkan membuka kantor pengembangan artificial intelligence di Paris, dengan alasan bahwa Paris merupakan tempat dimana banyak peneliti terdepan di bidang tersebut tinggal.

Dan tidak perlu ditanyakan lagi, Google yang belum lama ini melakukan restrukturisasi terhadap organisasi perusahaannya yang menempatkan Alphabet Inc sebagai holding company dimana dibawahnya terdapat beberapa anak perusahaan termasuk Google sendiri, merupakan perusahaan paling terdepan yang banyak melakukan pengembangan teknologi yang berbasis artificial intelligence. Perlu diketahui dibawah Alphabet terdapat Verily yang berfokus pada life science, Calico berfokus pada riset dan pengembangan biometrik, dan Google X atau disebut X saja yang mengembangkan proyek-proyek seperti Project Loon, Glass, Wing, Self-driving Car, dan tentunya riset dan pengembangan artificial intelligence banyak dilakukan di X ini. Akuisisi terhadap perusahaan artificial intelligence yang sangat remarkable adalah terhadap DeepMind yang berbasis di London dan dilakukan pada awal 2014 lalu. Alphabet melalui Google sebagai mesin pencetak biaya (yang sejatinya bekerja keras mengembangkan teknologi untuk membuat orang melihat iklan) adalah perusahaan yang menguasai masa depan dan sudah dimulai dari saat ini.

Kelihatan bukan? Bahwa setelah usaha untuk meningkatkan produktifitas dilakukan dengan melakukan eksplorasi seluas-luasnya terhadap komputer kemudian internet. Selanjutnya untuk meningkatkan produktifitas (secara sempit) atau masa depan peradaban manusia (secara luas) ada pada kecerdasan buatan. Pengaplikasian kemampuan komputer untuk berfikir secara aktif sudah dimulai dan akan mempengarui banyak aspek kehidupan manusia secara TSM (terstruktur, sistematis dan masif) :P

Semua hal diatas terjadi dan terkendali di U.S, lalu apa yang akan terjadi dengan negara dunia ketiga dengan mental minder dan terbelakang dimana prestige adalah hal yang diburu dan dibanggakan bukan prestasi seperti Indonesia ini?
blog comments powered by Disqus