Kadang Iri Sekali Melihat Pencapaian Tiongkok

Libur lebaran tahun 2016 kemarin, dalam rangka mengapresiasi peninggalan kebudayaan negeri sendiri, di akhir libur saya membuat daftar situs candi yang berada di sekitar Prambanan dan berniat mengunjungi minimal 10 buah saja dalam sehari dari pagi hingga sore.

Dalam kunjungan ketiga di Candi Prambanan, untuk kedua kalinya saya bertemu dengan dua orang perempuan yang terdengar bercakap-cakap bahasa Mandarin berdiskusi di samping reruntuhan bangunan candi. Kedua orang tersebut sudah saya lihat sebelumnya di Candi Kalasan. Karena mungkin kaget karena bertemu lagi, mereka menyapa dan menanyakan beberapa hal tentang persaingan Hindu-Buddha pada abad 8-10 Masehi yang justru sepertinya mereka lebih mengetahui dengan detail dan terlihat seperti hanya butuh peng-iya-an saja dari orang lokal.

Setelah berdiskusi tentang candi-candi akhirnya kami berpisah dan bertemu di Candi (yang sebenarnya reruntuhan Istana) Ratu Boko pada sore hari menjelang matahari mulai terbenam. Kali ini mereka bersamaan dengan rombongan sekitar 10 orang. Selain itu terlihat juga banyak rombongan lain yang terdengar berbicara dalam bahasa Mandarin. Ternyata mereka memang ingin menikmati sunset di Ratu Boko yang menjadi sangat hits sejak dijadikan latar di film AADC2, walaupun memang area wisata ini memang sudah keren dari dulu. Tapi spot favorit saya setiap kali ke Ratu Boko adalah di cungkup sebelah utara untuk melihat ke pemukiman sebelah bukit, Candi Prambanan, hingga ke puncak Merapi.

Jika pada tahun 2000-an saya sering menemui turis Jepang yang berlibur cukup lama dan mempelajari kultur Jawa, selanjutnya diikuti dengan banyaknya turis dari Korea datang berkunjung seiring dengan menguatnya perekonomian negara mereka. Maka, banyaknya turis Tiongkok ini merupakan konfirmasi untuk saya sendiri dari informasi-informasi tentang meledaknya kunjungan wisata dari negeri itu yang diperkirakan mencapai angka 100 juta wisatawan secara global. Bahkan di Indonesia sendiri Bali yang merupakan destinasi utama turis asal Australia dengan jumlah terbanyak, diperkirakan akan digeser oleh turis asal Tiongkok.

Mundur ke beberapa bulan yang lalu, seorang teman menanyakan dimana bisa mendapatkan alat penyaring konten televisi. Singkatnya, jika muncul satu kata atau frasa tertentu maka akan langsung disimpan di dalam database untuk kemudian diolah. Mungkin ada produk yang dijual sudah jadi dan tinggal pakai, tapi pasti harganya akan sangat mahal untuk setiap unitnya karena alat tersebut bukan barang yang diproduksi masal, selain karena kedepan pasti akan banyak dilakukan modifikasi untuk fungsi dan fitur yang ada karena kebutuhannya pasti akan berkembang nantinya.

Tiongkok menjadi tempat teratas yang pertama kali diingat karena tidak ada ide sedikitpun dimana alat tersebut ada atau bisa ditemukan di Indonesia. Saya ingat beberapa tahun yang lalu seorang kenalan developer iOS dari Shenzhen yang sangat menguasai integrasi perangkat Apple ke alat-alat elektronis, menceritakan bahwa perangkat elektronis, mikro kontroler atau mikro komputer dengan fungsi apapun bisa ditemukan di sana.

Teman saya sempat mencari-cari pembuat alat tersebut namun hanya mendapatkan sedikit informasi. Beberapa minggu sebelum lebaran kami mencari kesempatan untuk bertemu langsung di Hong Kong dengan seseorang dari Shenzhen yang mengklaim bisa membuatnya. Dimana dari pertemuan yang kemudian menjadi sharing diluar keperluan, kami semakin menyadari bahwa memang Shenzhen adalah tempat yang sangat maju dalam hal pengembangan teknologi yang bersifat elektronis dan komputasional dimana salah satunya yang menjadi tren saat ini adalah internet of things (IoT).

Mungkin baru beberapa tahun belakangan saja bersamaan dengan booming-nya startup teknologi, pengembangan dan implementasi software open source terjadi dengan sangat masif dan cepat. Software dibutuhkan untuk menjalankan sistem dengan skala yang terus berkembang, tingkat kerumitan yang berubah-ubah, termasuk ekspektasi performance dan reliabilitas yang tinggi mendorong para pengembang software untuk berlomba-lomba mengembangkan teknologi yang sedang mereka pakai atau bahkan menciptakan teknologi-teknologi baru. Termasuk institusi-institusi teknologi yang sudah besar dan kuat pun sangat aktif berpartisipasi dan menfasilitasi pengembangan software open source.

Jika perkembangan yang sangat luas, pesat dan cepat pada ranah software disebabkan dengan adanya metode open source untuk lisensi kepemilikan yang pada umumnya mempersilahkan pihak lain untuk menggunakan, menggandakan, menyebarkan atau memodifikasi secara bebas. Maka di Shenzhen hal tersebut juga terjadi dalam ranah hardware yang tercipta dari environment yang memang sangat dikondisikan dengan rapi oleh pemerintah, dunia pendidikan dan pelaku di industrinya. Bahkan diklaim bahwa produk-produk inovatif yang rilis di Silicon Valley seperempatnya dikembangkan dari Shenzhen.

Dalam pergaulan kelas (yang kebanyakan baru mencapai level) menengah di kota-kota besar di Indonesia, iPhone merupakan barang yang bisa mendongkrak ke-keren-an seseorang hingga berkali-kali lipat, atau bahkan seperti menjadi rukun gaul di lingkaran-lingkaran sosial tertentu. Yang harus diketahui adalah, kalau di komunitas open source di Shenzen, menurut klaim mereka iPhone yang dijual seharga USD 700-800 bisa mereka produksi dengan harga dibawah USD 200 dengan kualitas yang lebih bagus. Mungkin karena penguasaan medan industri lokal juga yang membuat Xiaomi bisa menjual lini produk dengan harga murah namun kualitas tidak jelek-jelek amat.

Bahkan hampir semua media sosial populer termasuk aplikasi messaging yang muncul dan besar di luar Tiongkok, bisa dipastikan terdapat copy-nya disana. Orang Indonesia baru sibuk blokar-blokir sana-sini dan menjadi pengguna aplikasi populer atau sekedar mengomentari perkembangan agar terlihat update saja sudah sangat bangga.

Meniru produk lain memang sebuah tindakan plagiarisme, tapi jika berhasil membuat dengan hasil yang lebih bagus mungkin itu bisa disebut dengan istilah inovasi, hehehe. Kalau sekarang ada penanda “Made in PRC” (People Republic of China = China Mainland = Tiongkok; ROC = Republic of China = Taiwan, si provinsi yang kata Tiongkok membangkang) mungkin itu cara mereka untuk membedakan dengan “Made in China” yang memang image produk buatan Tiongkok selama ini adalah murah dan tidak berkualitas. Kasus barang tiruan tetapi memiliki kualitas bagus ini juga pernah menjadi isu ramai di Alibaba beberapa bulan yang lalu. Hal ini diakui sendiri oleh CEO-nya; Jack Ma yang akhirnya mengambil kebijakan bahwa “tidak ada tempat untuk barang tiruan di Alibaba” walaupun dengan kualitas yang lebih bagus.

Ngomong-omong soal Alibaba yang merupakan ecommerce paling sibuk di dunia karena mengirim barang ke customer sangat banyak dalam hitungan hari bahkan dibandingkan dengan Amazon. Hal ini tidak terjadi dengan begitu saja tanpa adanya dukungan infrastruktur yang sudah siap di Tiongkok. Walaupun dengan luas wilayah yang tidak beda-beda jauh dengan Amerika Serikat, di Tiongkok bisa diandalkan bahwa sistem logistik mampu mengirim barang ke semua kota dalam waktu 24 jam. Bahkan di Singapura sekalipun yang wilayah negaranya hanya sedikit lebih luas dibanding Jakarta, sepertinya reliabilitas seperti itu belum bisa dipastikan ada.

Reliabilitas sistem logistik barang tersebut sudah pasti didukung oleh konektifitas infrastruktur transportasi yang tertata dan menjangkau hampir semua wilayah Tiongkok. Kalau di Indonesia karena memang ketinggalan puluhan tahun, sehingga terjadi tragedi di Brebes Exit pada waktu arus mudik 2016 kemarin. Yaa semoga saja 2 tahun lagi tol Trans Jawa sudah selesai dibangun, dari Jakarta sampai rumah sudah dilewati jalan tol, dan setelah tol Trans Sumatra selesai, roadtrip dari Aceh sampai Banyuwangi bisa juga lewat jalan tol nih.

Selain itu mega proyek reklamasi pantai utara Jakarta juga harus segera diselesaikan. Hahaha. Demi meningkatkan kebanggaan, kepercayaan diri dan gengsi juga mugkin. Tiongkok juga melakukan reklamasi untuk membangun pelabuhan laut Yangshan yang merupakan terbesar di planet ini yang dihubungkan juga dengan jembatan laut Donghai yang juga merupakan yang terpanjang yang pernah dibangun manusia untuk menopang Shanghai dan selanjutnya Jingjinji (Beijing – Tianjin – Hebei) yang juga merupakan urban area dengan populasi terbesar di bumi ini.

Tiongkok sekarang sudah bisa membuat super komputer dengan kapasitas komputasi terbesar di dunia yang diberi nama Tianhe, Baidu sibuk bagaimana cara masuk ke market Indonesia, Alibaba sudah sangat kuat dan bahkan melakukan investasi di Lazada, atau contoh lain Tencent sudah membeli kepemilikan mayoritas Softbank (Jepang) terhadap Supercell (Finlandia) yang sebelum Pokemon Go dirilis merupakan game paling hits yang sering menyita waktu banyak orang Indonesia dengan memainkan Clash Royale dan Clash of Clans. Indonesia belum lama sebelumnya baru melakukan inisiatif untuk melahirkan 1000 startup teknologi yang berhasil dengan target selama 5 tahun. Pertanyaan sarkas dari para pelaku startup negara-negara tetangga adalah: “Keren. Ada duitnya gak?”.

Kembali ke diskusi waktu masih di Candi Prambanan, karena celetukan saya yang bangga mengagumi hasil konstruksi total 240 buah candi Hindu di komplek tersebut, seperti tidak mau kalah dengan intuitif mereka langsung menyatakan bahwa hampir seribu tahun sebelum Candi Prambanan dibuat, Tiongkok sudah membuat komplek makam raksasa yang salah satunya berisi Terracota Army untuk kaisar pertama Dinasti Qin, ditambahin ribuan mile The Great Wall yang mereka bangga-banggakan. Setelah itu dipimpin oleh Cheng Ho, Tiongkok sudah membuat kapal terbesar dengan armada sangat besar mengunjungi kepulauan Nusantara saat Indonesia masih berupa kerajaan-kerajaan kecil yang sering berganti penguasa dan berebut pengaruh.

Bahkan mereka sempat mencari di Google dan menunjukkan translasi catatan kuno (saya lupa namanya) yang menyebutkan bahwa memang di masa-masa kerajaan Hindu di Jawa Timur, masyarakat Indonesia terdiri dari: kelas bangsawan, pedagang Arab-India-Tiongkok, dan kelas paling rendah adalah penduduk asli. Memang harus diakui Indonesia harus menghilangkan budaya inferioritas diri sendiri terhadap bangsa lain yang sampe sekarang masih sangat melekat dan itu sudah ditanamkan oleh para penguasa sejak berabad-abad lalu.

Memang sejak Prambanan dan sebelumnya Borobudur, sepertinya tidak ada lagi hasil peradaban bersifat monumental yang dicapai di kawasan Nusantara. Kesadaran itu baru muncul lagi ketika Soekarno membangun Monas dan monumen-monumen lain. Bangunan-bangunan itu memang tidak bisa membuat perut yang lapar menjadi kenyang, tetapi itu bisa mem-boost mental orang-orang yang memiliki “belonging” dengan entitas yang memiliki bangunan tersebut dengah harapan akan lebih optimis dan bisa berkarya.

Saat ini perlombaan konstruksi adalah berupa pembangunan gedung-gedung super tinggi, dan yang nanti bisa dibanggakan oleh orang Indonesia adalah Signature Tower di SCBD yang jika selesai dibangun akan setinggi 638 meter. Bisa dilihat di The Skyscrapper Center bahwa di masa depan akan terdapat 38 bangunan baik yang masih dalam tahap perencanaan hingga yang sudah beroperasi dengan ketinggian lebih dari setengah kilometer. Walaupun yang saat ini berdiri Burj Khalifa setinggi 830 meter di Dubai yang akan dilampaui oleh Arab Saudi yang mendirikan gedung dengan ketinggian 1 kilometer di Jeddah, tetapi setengah dari bangunan di masa depan atau sebanyak 19 buah yang memiliki ketinggiah diatas 500 meter akan berdiri di Tiongkok.

Karena memang sudah membosankan, tidak menarik lagi untuk membangun gedung dengan tinggi yang segitu-gitu saja, atau bisa saja karena memang kebutuhan tempat tinggal yang tinggi di lahan pemukiman yang sudah sangat terbatas dan sempit secara horisontal.

Bisa jadi karena ruang hidup yang tidak cukup juga yang menjadi alasan untuk melakukan klaim terhadap kepulauan Spratly dan Paracel yang jaraknya ribuan mil dari daratan Tiongkok dengan membuat garis-garis di laut Cina Selatan yang disebut dengan Nine-dashed Line dan memulai perselisihan dengan Filipina hingga mengusik Indonesia. Walaupun tidak melakukan klaim dan melanggar kedaulatan wilayah, namun klaim tersebut tumpang-tindih dengan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.

Agresifitas tersebut tidak mungkin dilakukan jika tidak didukung oleh kekuatan militer dengan jumlah personel paling besar di dunia dan peringkat secara umum menurut para analis militer adalah dalam peringkat 3 besar kejar-mengejar dengan Rusia dibawah Amerika Serikat.

Jika di luar bersifat agresif, maka di dalam bersifat otoriter. Tiongkok seperti orang tua yang over-protective terhadap anaknya, segala hal demi keberlangsungan masa depan anaknya diawasi dan diatur sedemikian rupa sehingga saat ini kekuatan ekonominya merupakan terbesar di dunia jika diukur menggunakan PPP (purchasing power parity). Mungkin bisa dianalogikan kalau rata-rata orang di Tiongkok bisa membeli lebih banyak makanan McD dibanding di negara-negara lain dengan ukuran GDP. Indonesia juga pernah mengalami masa otoriter tetapi sepertinya hasilnya lebih ke kestabilan politik dan internal saja yang menjadikan saat ini kita kurang kompetitif dengan bangsa lain. Mungkin saat dalam pemerintahan Order Baru masih menganut paham “makan tak makan asal kumpul” dan “nrimo ing pandum”.

Sekali lagi balik ke Shenzhen yang kemajuannya adalah legacy yang ditinggalkan oleh Deng Xiaoping, yang meneruskan pilar-pilar politik Komunis yang dibangun oleh Mao Zedong yang sering digambarkan telah melakukan pembantaian dengan jumlah paling banyak sepanjang sejarah manusia. Tetapi menurut sebagian orang Tiongkok sendiri, mungkin Mao memang menyebabkan kematian banyak orang, tapi penyebabnya adalah kesalahan kebijakan ekonomi dan pembangunan, bukan pembunuhan secara langsung.

OK. Balik lagi ke Deng Xiaoping, Shenzhen awalnya merupakan kota nelayan yang miskin namun dijadikan sebagai pilot project kawasan ekonomi khusus dengan keterbukaan dan inovasi yang tidak ditutup seperti daerah-daerah lain di Tiongkok. Menurut beberapa artikel yang pernah saya baca, keberhasilan wilayah selatan ini segera diterapkan juga di Shanghai dan wilayah lainnya.

Dalam Bahasa Inggris “to get rich is glorious” atau sering diterjemahkan “menjadi kaya adalah mulia” adalah cetusan slogan Deng Xiaoping yang sangat tepat untuk menggambarkan semangat yang harus digerakkan di seluruh Tiongkok waktu itu. Hal ini sangat bertentangan dengan kata-kata seperti “jangan mengejar harta” atau “harta tidak dibawa mati” yang sepertinya sudah membudaya di sebagian besar orang Indonesia. Tapi realistis saja, orang hidup membutuhkan harta (materi) untuk terus bisa survive dan tentu saja meninggalkan harta untuk keturunan atau keluarganya untuk bekal mereka hidup selanjutnya.

Seringkali pemahaman sempit membuat orang-orang yang berhati kecil beranggapan bahwa orang akan hilang kemanusiaanya dan akan mengukur segala hal dari harta kekayaan. Adalah hal yang wajar jika harta merupakan hasil pencapaian seseorang asal bukan dari warisan atau dari mengambil hak orang lain (korupsi, maling, menjarah, merampas dsb) dijadikan salah satu alat ukur karena akan sulit mengukur hal lain seperti akhlak atau karakter seseorang dengan tanpa interaksi langsung dengan orang tersebut. Memang tidak harus semerta-merta menilai seseorang dari kekayaannya, harus ada kekritisan sekunder yaitu mencari tahu dari mana orang itu kaya.

Kadang memang kita perlu dibanding-bandingkan agar menyadari ketertinggalannya. Tapi situasi yang menumbuhkan banyak harapan adalah perhatian di infrastruktur dan mental manusia, adalah semangat dan optimisme untuk mengejar ketertinggalan dari pemerintahan saat ini bisa membuat Indonesia segera mencapai kesetaraan dengan negara-negara maju lainnya, sukur-sukur bisa menjadi negara yang kuat dan berpengaruh nantinya.

 

 

 

 

blog comments powered by Disqus